# 4 # KAIDAH TENTANG UPAYA MINIMAL


kecerdasan alam berfungsi tanpa upaya…..
tanpa beban, dengan keselarasan, dan dengan cinta kasih.

Dan jika kita manfaatkan daya keselarasan, kegembiraan, dan cinta kasih, maka kita menciptakan sukses dan keberuntungan tanpa berupaya.

***

Eksistensi yang utuh tahu tanpa mencari, melihat tanpa memandang, mencapai hasil tanpa berbuat.

Lao Tzu


Kaidah spiritual keempat dari sukses adalah Kaidah tentang Upaya Minimal. Kaidah ini berdasarkan pada fakta bahwa kecerdasan alam berfungsi tanpa upaya dan sama sekali tanpa beban. Ini merupakan prinsip tindakan minimal serta tanpa perlawanan, sehingga karenanya merupakan prinsip keselarasan dan cinta kasih. Apabila kita berhasil mempelajari hal ini dari alam, dengan mudah kita akan dapat memenuhi hasrat-hasrat kita.

Jika Anda perhatikan cara kerja alam, akan Anda lihat bahwa nyaris tidak ada upaya yang terlibat di dalamnya. Rumput tumbuh, bukan berupaya untuk tumbuh. Ikan berenang, bukan berupaya untuk berenang. Bunga mekar, bukan berupaya untuk mekar. Burung terbang, bukan berupaya untuk terbang. Semuanya itu merupakan sifat intrinsik dari eksistensi-eksistensi itu. Bumi tidak berupaya berputar mengelilingi sumbunya; sudah sifat bumi untuk berputar dengan kecepatan sangat tinggi sambil mengarungi alam semesta. Memang sifat matahari untuk memancarkan sinar. Dan merupakan sifat manusia untuk menjadikan impian kita terjelma dalam bentuk fisik dengan mudah dan tanpa daya upaya.

Dalam Rig Veda, filsafat yang sudah sejak dahulu kala ada di India, prinsip ini dikenal sebagai prinsip kehematan upaya, atau “berbuat lebih sedikit dan mencapai hasil lebih banyak”. Akhirnya Anda sampai di keadaan dimana Anda tidak berbuat apa-apa dan segala-galanya terlaksana. Ini berarti bahwa yang ada hanyalah sepercik gagasan, lalu manifestasi gagasan itu terjadi tanpa diupayakan. Hal yang umumnya disebut “mukjizat”, pada hakikatnya merupakan ekspresi dari Kaidah tentang Upaya Minimal.

Kecerdasan alam berfungsi tanpa upaya, dengan mulus dan secara spontan. Kecerdasan alam bersifat non-linier, intuitif, holistik, serta bersifat memelihara. Apabila Anda berada dalam keadaan selaras dengan alam, apabila Anda sudah mantap dalam pengetahuan tentang Diri yang sejati, maka Anda dapat memberlakukan Kaidah tentang Upaya Minimal.

Upaya minimal adalah jika perbuatan Anda bermotivasikan cinta kasih, sebab yang memelihara keutuhan alam adalah energi cinta kasih. Jika Anda menginginkan kekuasaan dan pengendalian terhadap orang lain, maka Anda cuma membuang-buang energi saja. Apabila Anda menginginkan uang atau kekuasaan demi kepentingan diri Anda, maka Anda mengeluarkan energi untuk mengejar ilusi kebahagiaan, dan Anda justru tidak menikmati kebahagiaan yang ada pada  saat itu. Apabila Anda mencari uang hanya demi keuntungan pribadi, Anda memutuskan aliran energi ke diri Anda, serta mengganggu keutuhan ekspresi kecerdasan alam. Tetapi apabila perbuatan Anda didorong oleh cinta kasih, tidak ada energi terbuang percuma. Apabila tindakan Anda bermotivasikan cinta kasih, energi Anda menjadi berlipat ganda dan berakumulasi; energi tambahan yang Anda peroleh dan Anda nikmati dapat disalurkan untuk menciptakan apa saja yang Anda kehendaki, termasuk kekayaan yang tak terbatas.

Anda dapat membayangkan tubuh jasmaniah Anda sebagai alat pengendali energi: dapat membangkitkan, menyimpan dan mengeluarkan energi. Jika Anda mampu melakukan hal-hal itu secara efisien, maka dapat menciptakan kekayaan sebanyak apapun juga. Perhatian terhadap ego mengkonsumsi kuantitas energi terbesar. Jika ego merupakan rujukan batin Anda, apabila Anda menginginkan kekuasaan dan pengendalian terhadap orang lain atau menginginkan persetujuan dari orang lain, Anda hanya menghambur-hamburkan energi saja.

Energi itu, apabila sudah dibebaskan, dapat disalurkan kembali dan dimanfaatkan guna menciptakan apa saja yang Anda kehendaki. Apabila rujukan batin Anda adalah jiwa Anda, apabila Anda kebal terhadap kritik dan tidak gentar terhadap setiap tantangan, Anda dapat mengendalikan daya cinta kasih serta memanfaatkan energi secara kreatif demi pengalaman kelimpahruahan serta evolusi.

Dalam Seni Bermimpi, Don Juan mengatakan kepada Carlos Castaneda, ”...kebanyakan dari energi kita terpakai untuk mempertahankan gengsi kita... Andaikan kita mampu melepaskan sebagian dari gengsi itu, dua hal yang luar biasa akan terjadi pada diri kita. Pertama, kita akan membebaskan energi kita dari upaya mempertahankan gagasan khayal tentang kehebatan kita; dan kedua, kita akan memberikan cukup banyak energi bagi diri kita untuk...sekilas menyaksikan keagungan hakiki dari alam semesta.

@@@@@

Ada tiga komponen dari Kaidan tentang Upaya Minimal – tiga hal yang dapat Anda lakukan untuk memberlakukan prinsip ”berbuat lebih sedikit dan mencapai hasil lebih banyak” ini. Komponen pertama adalah ketawakalan, sikap menerima apa adanya. Sikap ini berarti berjanji pada diri sendiri: ”Hari ini aku akan menerima segala orang, situasi, keadaan, dan kejadian seperti adanya.” Ini berarti bahwa Anda tahu bahwa saat ini memang sudah semestinya, karena segenap jagat raya memang sudah semestinya begini. Saat ini, yaitu saat yang sedang Anda alami sekarang, merupakan kulminasi dari segala saat yang pernah Anda alami di masa silam. Saat sekarang ini begini karena segenap alam semesta adalah seperti adanya.

Apabila Anda berontak terhadap saat ini, Anda sebenarnya berontak terhadap segenap jagat raya. Anda dapat mengambil keputusan bahwa hari ini Anda tidak akan berontak terhadap segenap jagat raya dengan tidak berontak terhadap saat ini. Ini berarti penerimaan Anda terhadap saat ini bersifat total dan menyeluruh. Anda menerima segala hal seperti adanya, tidak seperti yang Anda inginkan pada saat ini. Hal ini penting sekali dipahami. Anda boleh saja mengharapkan hal-hal lain di masa depan, namun untuk saat sekarang ini Anda harus menerima segala sesuatu seperti adanya.

Apabila Anda merasa frustasi atau jengkel karena seseorang atau situasi, ingatlah bahwa Anda bukan breaksi terhadap orang atau situasi itu, melainkan terhadap perasaan Anda tentang orang atau situasi tersebut. Itu adalah perasaan Anda, dan perasaan Anda bukan merupakan kesalahan orang lain, atau kesalahan situasi. Apabila Anda dengan sepenuhnya mengenali serta memahami kenyataan ini, maka Anda sudah siap untuk bertanggung jawab atas perasaan Anda dan mengubahnya. Dan jika Anda dapat menerima hal-hal seperti adanya, Anda siap untuk bertanggung jawab atas situasi Anda dan atas segala kejadian yang menurut persepsi Anda merupakan masalah.

Ini membawa kita pada komponen kedua dari Kaidah tentang Upaya Minimal, yaitu tanggung jawab. Apakah tanggung jawab itu? Tanggung jawab berarti tidak menyalahkan orang lain atau apapun juga atas situasi yang Anda alami, termasuk menyalahkan diri Anda sendiri. Dengan menerima keadaan ini, kejadian ini, masalah ini, maka tanggung jawab menjadi berarti kemampuan untuk secara kreatif menanggapi situasi seperti adanya sekarang. Semua masalah mengandung benih-benih peluang, dan kesadaran ini memungkinkan Anda untuk mengubah saat yang ada menjadi situasi atau hal yang lebih baik.
Begitu Anda melakukan hal ini, segala sesuatu yang dianggap meresahkan akan menjadi peluang bagi terciptanya sesuatu yang baru dan indah, dan segala sesuatu yang dianggap sebagai perongrong akan menjadi guru yang mengajari Anda. Realitas pada hakikatnya merupakan penafsiran. Dan bila Anda memilih untuk menafsirkan realitas sebagai penafsiran, maka bagi Anda terdapat banyak guru di sekelilling Anda, serta banyak peluang yang dapat berkembang.

Setiap kali Anda menghadapi perongrong, penyiksa, guru, kawan, atau musuh (semua sebenarnya sama saja), ingatkan diri Anda sendiri, ”Saat ini memang sudah seharusnya seperti ini”. Hubungan apapun yang Anda peroleh dalam kehidupan Anda saat ini adalah tepat yang Anda perlukan dalam kehidupan Anda saat ini. Di balik segala kejadian terdapat makna yang tersembunyi, dan makna tersembunyi ini berguna bagi perkembangan Anda sendiri.

Komponen ketiga dari Kaidah tentang Upaya Minimal adalah sikap tanpa pertahanan, yang berarti bahwa kesadaran Anda berada secara mantap dalam keadaan tanpa pertahanan, dan Anda telah melepaskan rasa keharusan meyakinkan atau mendesakkan sudut pandangan Anda pada orang lain. Jika Anda amati perilaku orang-orang disekelilling Anda, maka Anda akan melihat bahwa boleh dibilang hampir seratus persen dari waktu mereka diisi dengan kesibukan mereka untuk mempertahankan sudut pandangan mereka sendiri. Jika Anda melepaskan perasaan Anda mengenai perlunya mempertahankan sudut pandangan Anda, Anda memperoleh akses ke dalam energi dalam jumlah yang luar biasa besarnya, yang sebelumnya terbuang secara sia-sia.

Apabila Anda bersikap defensif, menyalahkan orang lain atau diri sendiri, dan tidak mau bersikap tawakal menghadapi saat itu, maka hidup Anda menjumpai perlawanan. Setiap kali Anda menjumpai perlawanan, ketahuilah bahwa jika Anda memaksakan situasi, perlawanan justru akan meningkat. Janganlah bersikap kaku dan tegar seperti sebatang pohon tinggi dan kekar, akhirnya patah dan roboh dilanda badai. Anda harus bersikap lentur, bagaikan sebatang rumput yang melengkung mengikuti amukan angin dan karenanya tetap hidup setelah badai berlalu.

Janganlah berkeras mempertahankan sudut pandang Anda. Apabila tidak ada sudut pandangan yang harus dipertahankan, maka Anda memustahilkan kemungkinan timbulnya konflik. Jika Anda melakukan hal ini secara konsisten – yaitu apabila Anda menghentikan pergulatan dan perlawanan – maka Anda akan dengan sepenuhnya mengalami saat kini, yang merupakan anugerah. Pernah ada orang mengatakan kepada saya, ”Masa silam itu sejarah, masa depan itu misteri, dan saat ini merupakan anugerah”.
Jika Anda rangkul saat ini dan menjadi satu dengannya, berbaur dengannya, Anda akan mengalami nyala, percikan gairah yang berdenyut dalam setiap eksistensi. Ketika Anda mulai mengalami kegairahan jiwa dalam segala sesuatu yang hidup, sementara Anda menjadi akrab dengannya, akan lahir kegembiraan di dalam diri Anda, dan Anda akan menyingkirkan beban dan rintangan berat yang berupa pertahanan diri, kemarahan, dan sakit hati. Baru saat itulah Anda menjadi riang gembira, bebas, tanpa beban apapun.

Dalam kebebasan ceria dan bersahaja ini hati Anda akan tahu secara pasti bahwa apa yang Anda kehendaki tersedia bagi Anda kapan pun Anda menginginkannya, sebab keinginan Anda akan datang dari tingkat kebahagiaan, bukan dari tingkat kecemasan atau ketakutan. Anda tidak memerlukan alasan; nyatakan saja niat Anda pada diri sendiri, dan Anda akan mengalamikepuasan batin, kenikmatan, kegembiraan, keleluasaan, dan kebebasan dalam setiap saat kehidupan Anda.

Berjanjilah pada diri sendiri untuk menempuh jalan tanpa perlawanan. Ini merupakan jalan dimana kecerdasan alam berkembang secara spontan dan mulus, tanpa upaya. Apabila pada diri Anda sudah terdapat kombinasi indah dari sikap menerima, tanggung jawab, dan tanpa perlawanan, maka Anda akan mengalami bahwa hidup ini mengalir selancar-lancarnya.

Apabila Anda tetap terbuka terhadap segala sudut pandangan, dan tidak berpegang kaku pada satu saja, maka impian dan hasrat Anda akan mengalir bersama hasrat alam. Maka Anda akan menyebabkan niat-niat Anda tersebar dengan leluasa, dan menunggu saat yang tepat bagi hasrat-hasrat Anda untuk mekar menjadi kenyataan. Dapat Anda pastikan bahwa saatnya sudah tepat, hasrat-hasrat Anda akan terlaksana. Inilah Kaidah tentang Upaya Minimal.

MENERAPKAN KAIDAH TENTANG UPAYA MINIMAL

Aku akan memberlakukan Kaidah tentang Upaya Minimal dengan berjanji pada diri sendiri untuk melakukan langkah-langkah berikut :

  1. Aku akan mempraktekkan sikap Menerima. Hari ini aku akan menerima segala orang, situasi, keadaan, dan kejadian seperti adanya. Aku tahu bahwa saat ini memang sudah semestinya, karena segenap jagat raya memang sudah semestinya begini. Aku takkan berontak terhadap segenap jagat raya karena memberontak terhadap saat ini. Sikap menerimaku bersifat total dan menyeluruh. Aku menerima segala hal seperti adanya saat ini, dan bukan seperti yang kuinginkan.

2.   Dengan menerima hal-hal sebagaimana adanya, aku akan bertanggung jawab atas situasiku serta segala kejadian yang kulihat sebagai masalah. Aku tahu bahwa bertanggung jawab berarti tidak menyalahkan orang (termasuk diriku sendiri) atau apa pun juga mengenai situasiku. Aku juga tahu bahwa setiap masalah merupakan peluang yang tersamar, dan kesiagaan terhadap peluang-peluang ini memungkinkan aku mengambil saat ini dan menjelmakannya menjadi manfaat yang lebih besar

3. Hari ini kesadaranku akan berada secara mantap dalam keadaan tanpa pertahanan. Akan kulepaskan rasa keperluan membela sudut pandanganku. Aku takkan merasa perlu meyakinkan atau mendesak orang lain untuk menerima sudut pandanganku. Aku akan tetap terbuka terhadap segala sudut pandangan dan tidak berpegang secara kaku pada sudut pandangan yang mana pun.


By : DEEPAK CHOPRA (7 Kaidah Spiritual Sukses)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Japamala: Cara Menggunakan dan Maknanya

Triangle Pose (Trikonasana), Manfaatnya untuk Kesehatan