#1# KAIDAH POTENSIALITAS MURNI

 #1# KAIDAH POTENSIALITAS MURNI


Sumber segala penciptaan adalah kesadaran murni… potensialitas murni yang mencari pengungkapan, dari tanwujud menjadi berwujud.

Dan apabila kita menyadari bahwa diri kita yang sejati adalah suatu potensialitas murni, kita menyelaraskan diri dengan Kuasa yang menyebabkan segala sesuatu di jagat raya ini menjadi berwujud.

 

####

Pada awal mula

Tanpa ada maupun tiada

Seluruhnya energi tanwujud

 

Yang Maha Esa bernapas, tanpa napas,

Oleh kuasa-Nya semata

Tiada sesuatu pun selain-Nya…

 

Madah penciptaan, Rig Veda


Kaidah spiritual yang pertama dari sukses adalah Kaidah Potensialitas Murni.  Kaidah ini didasarkan pada fakta bahwa kita, dalam keadaan yang hakiki, merupakan kesadaran murni. Kesadaran murni adalah potensialitas murni. Kesadaran murni merupakan medan segala kemungkinan dan kreativitas tanpa batas. Kesadaran murni adalah hakikat spiritual kita, yang karena tanpa batas dan tak terhingga, juga merupakan kegembiraan murni. Atribut-atribut lainnya dari kesadaran adalah pengetahuan murni, keheningan tak terhingga, keseimbangan sempurna, tidak tertundukkan, kesahajaan, dan kebahagiaan. Itulah sifat hakiki kita. Sifat hakiki kita adalah sifat potensialitas murni.

Jika Anda berhasil menemukan sifat hakiki Anda dan tahu siapa Anda sesungguhnya, maka dalam hal ini mengetahui itu sendiri terletak kemampuan untuk merealisasikan setiap idam-idaman Anda, karena Anda adalah kemungkinan abadi, potensi tak terukur dari segalanya yang pernah ada, yang kini ada, dan yang akan ada. Kaidah Potensialitas Murni dapat pula dinamakan Hukum Kesatuan, sebab yang melandasi kebhinekaan tan terhingga dari kehidupan adalah kesatuan dari roh tunggal yang hadir di manapun juga. Antara Anda dan medan energy itu sama sekali tidak ada pemisahan. Medan potensialitas murni itu adalah Diri Anda Sendiri. Dan semakin banyak Anda mengalami sifat dasar Anda yang sejati, Anda menjadi semakin dekat ke medan potensialitas murni.

Pengalaman akan Diri, atau “perujukan pada diri”, berarti bahwa yang menjadi rujukan batin kita adalah roh kita sendiri, bukan objek-objek pengalaman kita. Kebalikan dari “perujukan pada diri” adalah “perujukan pada objek”. Dalam sikap merujuk pada objek diluar diri, misalnya situasi, keadaan, orang-orang dan benda-benda. Dalam “perujukan pada objek”, kita senantiasa mendambakan persetujuan pihak lain. Pikiran serta perilaku kita selalu berada dalam kondisi mengantisipasi adanya tanggapan, dan karenanya dilandasi rasa takut.

Dalam “perujukan pada obyek”, kita juga merasa sangat perlu bisa memegang kendali. Kita merasakan kebutuhan yang sangat besar akan kekuasaan eksternal. Kebutuhan akan persetujuan, kebutuhan memegang kendali situasi, serta kebutuhan akan kekuasaan eksternal merupakan kebutuhan-kebutuhan yang dilandasi rasa takut. Kekuasaan jenis ini bukan kekuasaan potensialitas murni, atau kekuatan Diri, atau kekuasaan sejati. Apabila kita mengalami kekuasaan Diri, maka takkan ada ketakutan, tidak ada keharusan rasa keharusan untuk mengendalikan, dan tidak ada pula perjuangan untuk memperoleh persetujuan atau kekuasaan eksternal.

Dalam “perujukan pada obyek”, rujukan batin Anda adalah ego Anda. Namun ego itu bukanlah Anda yang sebenarnya. Ego itu adalah citra diri Anda; kedok sosial Anda; peran yang Anda mainkan. Kedok sosial Anda hidup dari persetujuan eksternal. Kedok sosial itu ingin mengendalikan, dan ditopang keberadaannya oleh kekuasaan, karena hidup dalam ketakutan.

Diri Anda yang sejati; yang adalah roh Anda, jiwa Anda, sepenuhnya terbebas dari segala hal itu (rujukan pada obyek); kekal terhadap kritik, tidak gentar terhadap segala tantangan, dan tidak merasa lebih rendah dari siapapun. Di pihak lain, Diri Anda yang sejati juga tidak merasa lebih unggul dari siapapun, karena mengenali bahwa semuianya itu adalah Diri yang sama, roh yang sama, dengan kedok yang berbeda-beda.

Itulah perbedaan hakiki antara “perujukan pada obyek” dan “perujukan pada diri”. Dalam perujukan pada diri, Anda mengalami hakikat Anda, yang tidak gentar terhadap segala tantangan, menaruh respek terhadap semua orang, dan tidak merasa rendah dari siapapun. Karenanya, kekuasaan Diri adalah kekuasaan sejati.

Sedangkan kekuasaan yang didasari perujukan ke obyek, adalah kekuasaan palsu. Karena berlandaskan pada ego, kekuasaan itu hanya mampu bertahan selama obyek yang dijadikan rujukan masih ada. Jika Anda mempunyai kedudukan tertentu – misalnya presiden direktur sebuah perusahaan - atau memiliki uang yang sangat banyak, maka kekuasaan yang Anda nikmati terdapat bersama kedudukan, bersama uang. Begitu kedudukan atau uang tidak ada, maka lenyap pula kekuasaan.

Di pihak lain, kekuasaan diri bersifat permanen, karena didasari pengetahuan tentang Diri. Dan ada karakteristik-karakteristik tertentu dari kekuasaan diri ini, yakni mendekatkan orang-orang kepada Anda, dan juga mendekatkan hal-hal yang Anda inginkan kepada Anda. Kekuasaan diri, bagaikan magnet, menarik orang-orang, situasi dan kondisi untuk mendukung keinginan Anda. Ini juga disebut dukungan dari kaidah-kaidah alam, merupakan dukungan yang datang dari keadaan berada dalam keadaan penuh berkah. Kekuasaan Anda sedemikian rupa sehingga Anda menikmati ikatan dengan orang-orang, dan orang-orang menikmati ikatan dengan Anda. Kekuasaan Anda adalah kekuasaan untuk mengikat – yang datang dari cinta kasih sejati.


#####

Bagaimanakah dapat kita terapkan Kaidah Potensialitas Murni, medan segala kemungkinan, pada kehidupan kita? Jika Anda ingin menikmati manfaat medan potensialitas murni, jika Anda ingin secara sepenuhnya memanfaatkan kreativitas yang terkandung dalam kesadaran murni, maka Anda perlu dapat menjangkaunya. Satu jalan untuk memperoleh akses terhadapnya adalah dengan setiap hari melatih diri untuk hening, bermeditasi dan tidak melakukan pertimbangan. Berada selama beberapa waktu di tengah alam bebas juga akan membukakan jalan bagi Anda untuk menjangkau kualitas-kualitas yang terkandung di situ, yaitu kreativitas tak terhingga, kebebasan, dan kebahagiaan. 

Melatih diri untuk hening berarti suatu komitmen untuk selama waktu tertentu semata-mata hanya Ada. Mengalami keheningan berarti pada waktu-waktu tertentu mengundurkan diri dari aktivitas berbicara. Dan juga berarti pada waktu-waktu tertentu menarik diri dari kegiatan-kegiatan seperti menonton televisi, mendengarkan radio, atau membaca buku. Jika Anda tidak pernah memberi peluang pada diri Anda sendiri untuk mengalami keheningan, maka terjadilah kegalauan dalam dialog batin Anda.

Sekali-sekali sisihkanlah sedikit waktu untuk mengalami keheningan. Atau berikrarlah pada Anda sendiri untuk berdiam diri selama waktu tertentu setiap hari. Anda dapat melakukannya selama dua jam, atau jika itu Anda rasakan terlalu lama, lakukanlah selama satu jam. Dan sekali-sekali alamilah keheningan ini selama waktu yang panjang, misalnya sehari penuh, atau dua hari, atau bahkan seminggu.

Apakah yang akan terjadi saat Anda memasuki pengalaman keheningan? Pada awalnya dialog batin Anda akan bertambah galau. Anda merasakan adanya keinginan yang luar biasa untuk berbicara, mengatakan entah apa saja. Saya pernah mengalami bahwa ada orang-orang yang benar-benar menjadi kacau balau pada satu atau dua hari pertama mereka mulai menjalani pengalaman berdiam diri selama waktu yang panjang. Tiba-tiba datang melanda perasaan gelisah dan cemas. Namun, sementara mereka tetap bertahan dengan pengalaman yang sedang mereka jalani, dialog batin mereka mulai mereda. Dan dengan segera keheninganlah satu-satunya yang masih ada. Ini karena setelah beberapa waktu pikiran menyerah, sebab menyadari bahwa tidak ada gunanya sibuk berputar-putar terus apabila Anda – Sang Diri, roh, penentu pilihan – tidak mau berbicara. Titik. Lalu, sementara dialog batin menjadi reda, Anda pun mulai mengalami keheningan medan potensialitas murni.

Mengisi waktu Anda setiap hari dengan bermeditasi merupakan cara lain untuk mengalami Kaidah Potensialitas Murni. Idealnya, Anda melakukannya paling sedikit selama tiga puluh menit di pagi hari dan tiga puluh menit pada malam hari. Melalui meditasi, Anda akan dapat mengalami medan keheningan murni serta kesadaran murni. Dalam medan keheningan murni terdapat medan pertalian atau korelasi yang tak terhingga, medan daya organisasi tak terhingga, landasan asal dari penciptaan di mana segalanya saling berhubungan tanpa kemungkinan dipisahkan.

Dalam kaidah spiritual kelima, yaitu Kaidah Niat dan Hasrat, Anda akan melihat betapa Anda dapat memasukkan sekelumit impuls niat ke dalam medan ini, dan penciptaan hasrat-hasrat Anda akan terjadi dengan sendirinya. Namun pertama-tama Anda terlebih dulu harus mengalami keheningan. Keheningan merupakan syarat pertama bagi manifestasi hasrat-hasrat Anda, karena dalam keheningan terdapat hubungan Anda dengan medan potensialitas murni yang dapat mengatur kinerja detail-detail yang tak terhingga banyaknya bagi Anda.

Bayangkan Anda melempar sebutir batu kecil ke kolam yang tenang dan Anda memperhatikan air kolam beriak. Lalu, setelah permukaan kolam sudah tenang lagi, Anda lemparkan lagi sebutir batu ke dalamnya. Hal seperti itulah yang terjadi apabila Anda memasuki medan keheningan murni dan memunculkan niat Anda. Dalam keheningan ini, niat sekecil apapun akan menimbulkan riak yang bergerak melintasi kesadaran semesta yang mendasari, yang menghubungkan segala sesuatu dengan segala hal lainnya. Tetapi, jika Anda tidak mengalami keheningan dalam kesadaran, jika pikiran Anda adalah bagaikan samudera yang bergelora, maka sebesar apa pun benda yang Anda lemparkan ke dalamnya, Anda takkan melihat adanya suatu perubahan. Dalam Kitab Injil terdapat kalimat, “Diamlah, dan ketahui bahwa Aku ini Tuhan.” Ini hanya dapat dicapai melalui meditasi.

Suatu jalan lain lagi untuk memperoleh akses ke medan potensialitas murni adalah melalui latihan untuk tidak melakukan pertimbangan. Pertimbangan adalah tindakan senantiasa menilai hal-hal sebagai betul atau salah, baik atau buruk. Apabila Anda selalu saja mengevaluasi, mengklasifikasi, memberi label, menganalisis, maka Anda menciptakan kegalauan dalam dialog batin Anda. Kegalauan ini menghambat arus energy antara Anda dan medan potensialitas murni. Anda membuntukan “celah-celah” di sela pikiran Anda.

Celah itu merupakan penghubung Anda ke medan potensialitas murni. Itulah keadaan kesadaran murni, ruang hening di sela-sela pikiran; itulah keheningan di dalam yang menghubungkan Anda ke kekuasaan sejati. Dan apabila Anda membuntukan celah itu, Anda membuntukan hubungan Anda ke medan potensialitas murni dan ke kreativitas yang tak terhingga.

Keadaan tidak melakukan pertimbangan menyebabkan terciptanya keheningan di dalam benak Anda. Karenanya ada baiknya begitu bangun tidur, Anda menyatakan, “Hari ini aku takkan melakukan pertimbangan terhadap apa pun juga yang terjadi.” Dan sepanjang hari, ingatkan diri Anda pada pernyataan itu begitu Anda hendak melakukan penilaian terhadap sesuatu. Jika rasanya terlalu sulit mempraktekkan prosedur ini sepanjang hari, maka Anda boleh saja mengatakan pada diri sendiri, “ Selama dua jam mendatang, aku takkan melakukan penilaian terhadap apa saja” anda bahkan dapat saja menetapkan niat itu untuk satu jam saja. Kemudian secara bertahap, Anda perpanjang waktunya.

Dengan melalui keheningan, melalui meditasi, dan melalui sikap tidak memberikan pertimbangan, Anda akan dapat menjangkau kaidah pertama, yaitu Kaidah Potensialitas murni. Begitu hal tersebut sudah Anda lakukan, Anda dapat menambahkan komponen keempat pada latihan ini, yaitu secara teratur melewatkan waktu bercengkrama dengan alam. Berada di tengah alam bebas memungkinkan Anda merasakan interaksi harmonis antara semua unsur dan kekuatan alam, serta memberikan perasaan bersatu dengan seluruh kehidupan. Apakah itu aliran sungai, sebuah hutan, gunung, danau, atau pantai laut, hubungan dengan kecerdasan alam itu juga akan membantu Anda menjangkau medan potensialitas murni.

Anda harus belajar untuk berhubungan dengan hakikat yang paling dalam di dalam diri Anda. Keberadaan hakikat sejati ini adalah di luar jangkauan ego. Hakikat sejati Anda tidak kenal takut, kebal terhadap kritik, tidak gentar terhadap segala tantangan. Hakikat sejati Anda setara dengan siapa siapa pun juga, tidak lebih rendah atau lebih tinggi.

Adanya jalan masuk menuju hakikat Anda juga akan memberikan wawasan ke cermin perhubungan, karena segala perhubungan merupakan pencerminan dari perhubungan antara Anda dan Anda sendiri. Misalnya, jika pada Anda ada rasa bersalah, takut, dan kegelisahan tentang uang, atau sukses, atau apa pun juga, maka segala perasaan itu merupakan pencerminan dari rasa bersalah, takut, atau kegelisahan yang merupakan aspek-aspek dasar kepribadian Anda. Uang atau sukses sebanyak apa pun takkan melenyapkan problem-problem dasar kehidupan itu; hanya keakraban dengan Diri saja yang akan menghasilkan kesembuhan sejati. Dan apabila Anda berpijak teguh pada pengetahuan tentang Diri sejati Anda maka Anda takkan pernah merasa bersalah, takut atau gelisah tentang uang, atau kemakmuran, atau dipenuhinya segala hasrat Anda, sebab Anda akan menyadari bahwa esensi dari segala kekayaan materiil adalah energi kehidupan, adalah potensialitas murni. Dan potensialitas murni adalah sifat intrinsik, sifat sejati Anda.

Sementara Anda semakin memperoleh akses ke sifat sejati Anda, Anda juga akan secara spontan menerima pikiran-pikiran kreatif, sebab medan potensialitas murni juga merupakan medan kreativitas yang tak terhingga dan pengetahuan murni. Franz Kafka, seorang filsuf Austria yang juga sastrawan, pernah menyatakan, “Anda tidak perlu meninggalkan kamar Anda. Tetaplah duduk di tempat Anda berada dan dengarkan. Anda bahkan tidak perlu mendengarkan, tunggu sajalah. Anda bahkan tidak perlu menunggu, tetapi cobalah diam, menjadi hening dan lepas dari segala hal yang ada di lingkungan Anda. Maka dunia akan dengan sendirinya menawarkan diri kepada Anda untuk dibuka kedoknya.

Kelimpahruahan jagat raya merupakan ungkapan dan pikiran kreatif alam. Semakin selaras diri Anda dengan pikiran alam, semakin besar pula akses Anda kepada kreativitas alam yang tak terhingga, tanpa batas. Namun sebelumnya Anda harus beranjak mengatasi kegalauan dialog batin Anda, agar dapat berhubungan dengan pikiran kreatif yang berlimpah ruah dan tak terhingga itu. Setelah itu Anda menciptakan kemungkinan aktivitas dinamis sambil mengemban keheningan dan gerakan secara serempak, yang dapat menciptakan apa saja yang Anda inginkan. Koeksistensi dari hal-hal yang bertolak belakang ini – keheningan dan kedinamisan pada saat yang sama – menjadikan Anda tidak tergantung pada situasi, kondisi, orang-orang dan berbagai obyek.

Apabila Anda dalam keadaan diam menerima koeksistensi sangat indah dari hal-hal yang bertolak belakang ini, maka akan terjadi keselarasan antara Anda dan alam energi – yaitu kabut kuantum, Zat non-materi yang merupakan sumber alam materi. Alam energi ini merupakan fluidum, dinamis, tangguh, berubah-ubah, senantiasa dalam keadaan bergerak. Di pihak lain, juga tidak berubah, hening, diam dan abadi.

Keheningan sendiri merupakan potensialitas bagi kreativitas; gerakan sendiri adalah kreativitas yang terbatas pada aspek tertentu dari ekspresinya. Namun kombinasi gerakan dan keheningan memungkinkan Anda untuk mengerahkan kreativitas Anda ke segala arah, ke mana pun kekuasaan dari perhatian Anda membawa Anda.

Ke mana pun Anda mennuju di tengah gerakan dan aktivitas, bawalah keheningnan Anda di dalam diri Anda. Dengan demikian gerakan kacau-balau di sekeliling Anda takkan pernah dapat menyulitkan akses Anda ke sumber segala kreativitas, yaitu medan potensialitas murni.


MENERAPKAN KAIDAH POTENSIALITAS MURNI

 Aku akan memberlakukan Kaidah Potensialitas Murni dengan berjanji pada diri sendiri untuk melakukan langkah-langkah berikut :

 (1)    Aku akan membuka hubungan dengan medan potensialitas murni dengan menyediakan waktu setiap hari untuk menjadi hening, menjadi semata-mata Ada. Aku juga akan duduk bermeditasi seorang diri dalam keadaan diam, paling sedikit dua kali sehari, kurang lebih tiga puluh menit di pagi hari dan tiga puluh menit pada malam hari.

 (2)    Aku akan menyediakan waktu setiap hari untuk berkomunikasi dengan alam dan sambil berdiam diri menjadi saksi dari kecerdasan yang terkandung dalam setiap unsur kehidupan. Aku akan duduk berdiam diri sambil mengamati matahari terbenam, atau mendengarkan suara-suara laut atau sungai, atau menyadari kehadiran bau sekuntum bunga. Dalam kegairahan keheninganku sendiri, dan dengan berkomunikasi dengan alam, aku akan menikmati denyut kehidupan waktu yang berjalan, medan potensialitas murni dan kreativitas yang tak terhingga.

 (3)    Aku akan mempraktekkan sikap tidak melakukan pertimbangan. Begitu bangun pagi, aku akan menyatakan, “Hari ini, aku takkan menilai apa pun yang terjadi,” dan sepanjang hari aku akan mengingatkan diriku sendiri agar jangan melakukannya.


Dikutip dari : 7 Kaidah Spiritual Sukses (Deepak Chopra)

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Japamala: Cara Menggunakan dan Maknanya

Triangle Pose (Trikonasana), Manfaatnya untuk Kesehatan